“Banyak orang tua menyerahkan pembentukan karakter anak kepada rekomendasi media sosial,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangannya, Rabu 5 Juni 2026.
Menurut dia, hal ini bukan sekadar masalah teknologi. Tapi terdapat krisis pengashuan anak.
Dalam hal ini pertumbuhan generasi muda berada dalam pelukan algoritma internet. Bukan lagi pada orang tua.
“Kondisi saat ini dihadapkan pada krisis pendampingan dan keteladanan bagi anak yang berpotensi menggerus pemahaman nilai-nilai kebangsaan mereka,” jelasnya.
Rerie pun menyebut, orang tua yang kewalahan, tanpa sadar, mendelegasikan peran edukasi karakter kepada platform digital. Akibatnya, nilai-nilai seperti gotong royong dan kesantunan yang seharusnya ditanamkan lewat teladan sehari-hari kini tergeser oleh konten rekomendasi.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 1.923 konten hoaks berhasil diidentifikasi di ruang digital Indonesia sepanjang tahun lalu. Angka itu hanyalah yang terdeteksi, dan yang tak terdeteksi kemungkinan lebih banyak dan lebih sulit diukur.
“Orang tua harus mampu menjadi mentor dan teladan bagi anak-anaknya dalam berinteraksi di dunia digital,” Guru Besar Psikologi UI Rose Mini Agoes Salim.
Rose mengingatkan bahwa kehadiran regulasi seperti PP Tunas sejatinya dimaksudkan agar anak terlindung dari banjir informasi digital hingga usia 16 tahun. Namun regulasi saja tidak cukup jika orang tua sendiri absen sebagai pembimbing.
Ketua Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo menambahkan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah fondasi yang tidak bisa ditanamkan oleh algoritma. “Kita harus bisa mengajak anak-anak kita untuk belajar menilai situasi berdasarkan nilai-nilai yang dipahaminya,” ujarnya.
Aktivis pendidikan Indra Charismiadji mengkritik sistem pendidikan nasional yang selama ini memaknai pendidikan sebatas sekolah. Padahal Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan berpusat pada tiga pilar, yaitu keluarga, pergerakan pemuda, dan perguruan.
“Saat keluarga diabaikan, dua pilar lainnya pun goyah. Ancaman di ruang digital terhadap anak tidak bisa diatasi dengan gerakan individual harus dengan gerakan kultural,” sebut Indra.
Sementara itu, Pakar pendidikan karakter Doni Koesoema menegaskan bahwa solusinya bukan kebijakan tunggal, melainkan pergeseran budaya dengan cara membangun ekosistem digital yang ramah anak secara bersama-sama. Wartawan senior Usman Kansong pun mengusulkan pembagian peran yang lebih tegas dari sekolah fokus pada akademis, sementara pendidikan karakter dikembalikan kepada komunitas dan keluarga.
“Benang merahnya satu, selama orang tua belum hadir sebagai teladan di ruang digital, tidak ada regulasi atau kurikulum yang akan cukup untuk menjaga anak dari arus informasi yang membentuk mereka diam-diam,” pungkas Usman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)
Berita Kesehatan Terkini Hari ini
Berita Kesehatan
bpjs kesehatan
kesehatan
poster kesehatan
cek bpjs kesehatan
call center bpjs kesehatan
edabu bpjs kesehatan
protokol kesehatan
dinas kesehatan
iuran bpjs kesehatan
kesehatan mental
cek bpjs kesehatan dengan nik
kondisi kesehatan mental
cara cek bpjs kesehatan
tes kesehatan mental
cara daftar bpjs kesehatan
menteri kesehatan
kantor bpjs kesehatan terdekat
daftar bpjs kesehatan online
asuransi kesehatan
alat kesehatan
kartu bpjs kesehatan
toko alat kesehatan terdekat
kementerian kesehatan
daftar bpjs kesehatan
cara cek bpjs kesehatan di hp
contoh poster kesehatan
bpjs kesehatan login
logo kesehatan
cek tagihan bpjs kesehatan
kesehatan masyarakat
kantor bpjs kesehatan
toko alat kesehatan
pusat kesehatan masyarakat
cek iuran bpjs kesehatan
makanan yang lezat namun dapat membahayakan kesehatan hukumnya adalah
login bpjs kesehatan
poster tentang kesehatan
gambar poster kesehatan
cara membuat bpjs kesehatan
bpjs kesehatan online
hari kesehatan nasional
cek bpjs kesehatan online
antrian online bpjs kesehatan
pcare bpjs kesehatan
kalung kesehatan
lpse kesehatan
hari kesehatan mental sedunia
pantun kesehatan
cara cek bpjs kesehatan aktif atau tidak
artikel tentang kesehatan
