Kondisi ini sering disebut sebagai regresi, yaitu fase ketika anak mundur sementara ke tahap perkembangan sebelumnya, sebagai respons terhadap perubahan atau tekanan emosional.
Selain regresi, rasa cemburu juga kerap muncul, karena perhatian orang tua kini terbagi. Memahami kondisi ini penting, agar proses adaptasi berjalan lebih tenang, baik untuk anak maupun orang tua.
Apa yang harus dilakukan jika balita menunjukkan rasa cemburu pada bayi baru lahir? Selain mengalami regresi perkembangan dan perubahan perilaku, balita juga bisa memperlihatkan tanda-tanda kecemburuan terhadap adik barunya. Beberapa bentuk perilaku yang sering muncul, yaitu.
.jpg)
(Penting untuk menunjukkan secara langsung, bagaimana cara menyentuh adik bayi dengan lembut. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
• Ingin mendapatkan perhatian saat bayi sedang disusui atau diganti popoknya
• Merebut mainan milik bayi
• Menarik lengan bayi atau bahkan memukul
• Mengatakan tidak suka pada bayi atau berharap bayi tersebut pergi
Menghadapi situasi ini memang tidak mudah, tetapi tetap tenang adalah kunci utama saat balita meluapkan emosinya. Di balik perilaku tersebut, sebenarnya ada perasaan besar yang belum mampu diungkapkan dengan baik.
Alih-alih memarahi, penting untuk menunjukkan empati dan membantu balita mengenali emosinya. Kalimat sederhana seperti, “Rasanya tidak adil bahwa Mama sekarang sangat sibuk dengan bayi. Kamu merindukan saat-saat ketika Mama hanya milikmu sendiri. Sulit menunggu giliranmu agar Mama bisa bermain denganmu” dapat membantu anak merasa dipahami.
Jika balita mulai bersikap kasar terhadap bayi, arahkan dengan lembut namun tegas. Bisa menggunakan kalimat seperti, “Tolong perlakukan bayi dengan lembut. Menarik lengannya bisa menyakitkan. Jika kamu ingin menarik sesuatu, kamu bisa menarik kereta mainanmu.” Pendekatan ini membantu anak memahami batasan, tanpa merasa disalahkan.
Selain itu, penting untuk menunjukkan secara langsung, bagaimana cara menyentuh bayi dengan lembut. Tetapkan batasan yang jelas untuk menjaga keamanan bayi.
“Kamu tidak bisa memaksa balita melakukan sesuatu atau melarangnya melakukan sesuatu, tetapi kamu bisa menetapkan batasan aman dengan menggunakan pagar, atau menempatkan bayi di luar jangkauan balita,” kata Kelley Yost Abrams, Ph.D., seorang psikolog perkembangan di California.
“Balita hampir tidak memiliki kontrol impuls, jadi jangan pernah biarkan balita bermain di dekat bayi tanpa pengawasan ketat,” tambahnya.
Saat melihat balita mulai mendekati bayi dengan cara yang kurang tepat, segera arahkan dan beri contoh yang aman, seperti menyentuh bagian tubuh bayi yang tidak berisiko, misalnya jari kaki.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)
Berita Kesehatan Terkini Hari ini
Berita Kesehatan
bpjs kesehatan
kesehatan
poster kesehatan
cek bpjs kesehatan
call center bpjs kesehatan
edabu bpjs kesehatan
protokol kesehatan
dinas kesehatan
iuran bpjs kesehatan
kesehatan mental
cek bpjs kesehatan dengan nik
kondisi kesehatan mental
cara cek bpjs kesehatan
tes kesehatan mental
cara daftar bpjs kesehatan
menteri kesehatan
kantor bpjs kesehatan terdekat
daftar bpjs kesehatan online
asuransi kesehatan
alat kesehatan
kartu bpjs kesehatan
toko alat kesehatan terdekat
kementerian kesehatan
daftar bpjs kesehatan
cara cek bpjs kesehatan di hp
contoh poster kesehatan
bpjs kesehatan login
logo kesehatan
cek tagihan bpjs kesehatan
kesehatan masyarakat
kantor bpjs kesehatan
toko alat kesehatan
pusat kesehatan masyarakat
cek iuran bpjs kesehatan
makanan yang lezat namun dapat membahayakan kesehatan hukumnya adalah
login bpjs kesehatan
poster tentang kesehatan
gambar poster kesehatan
cara membuat bpjs kesehatan
bpjs kesehatan online
hari kesehatan nasional
cek bpjs kesehatan online
antrian online bpjs kesehatan
pcare bpjs kesehatan
kalung kesehatan
lpse kesehatan
hari kesehatan mental sedunia
pantun kesehatan
cara cek bpjs kesehatan aktif atau tidak
artikel tentang kesehatan

